Menghadapi Caci Maki

notes151 Views
Apa yang harus kulakukan untuk menghadapi mereka yang kata-katanya begitu menyakitkan untuk didengar? Bagaimana cara membalasnya?” Tanyanya dengan wajah antara sedih, pedih terluka, sekaligus menahan gejolak amarah.
Manu tersenyum.
“Dengarlah. Orang itu tidak sedang menyakitimu. Ia hanya sedang berusaha menyakitimu dengan kata-kata. Ia hanya akan bisa menyakiti hatimu jika kau menerima dan memproses ucapannya dengan perasaanmu.”
“Kau bisa saja membalasnya. Tapi percayalah, kau tidak akan menghentikan ucapan itu. Hanya akan menambah lebih banyak ucapan buruk darinya.”
“Jika kau membalas dengan tindakan fisik, kau sedang mengijinkan fisikmu ikut tersakiti lebih cepat.”
“Lalu apa yang harus kulakukan?” Tanyanya lagi.
“Kenapa kau tidak dengan bangga melatih dirimu menjadi orang dengan batin yang kebal, yang tak sanggup tersakiti hanya oleh kata-kata.”
“Ingatlah. Di masa kecilmu ada khayalan untuk menjadi serupa Superman yang kebal. Sekarang, panggil hasratmu itu menjadi menjadi Superheart, yang kebal rasa oleh kata-kata tak penting dan penuh virus akal budi yang menyakitkan itu.”
“Lalu biarkan orang itu tersakiti oleh ucapannya sendiri. Karena batin yang memendam isi hati yang penuh caci maki, akan bergolak dengan sifat sejati jiwanya sendiri yang sesungguhnya penuh cinta.”
Ia mulai merenung dengan pesan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *