Mati Mudah

notes364 Views
Mati Mudah
Di sebuah desa ada pohon besar dan rimbun yang tidak lagi dibutuhkan oleh warga desa, karena di tempat itu akan dipakai untuk kebutuhan lain.
Karena besar dan tingginya pohon itu, tentu akan sangat sulit ditebang oleh warga desa dengan alat seadanya.
Maka alih-alih mencoba menebanginya pelan-pelan, seorang tetua desa menyarankan agar waega berkumpul dan melempari pohon itu dengan batu sembari mengumpatnya.
Bahkan pada setiap warga yang lewat setiap hari di depannya juga diminta melakukan hal yang sama. Lama-lama dedaunan pohon itu gugur, kekeringan. Batangnya pun mulai rapuh terkelupas. Akhirnya pohon itu dengan runtuh sendirinya.
Namun sebelum benar-benar gugur dan mati memeluk bumi yang menjaganya, ia menitip pesan.
“Bahkan dengan keperkasaanku ini, aku bisa gugur oleh kata-kata dan sikap yang menyakitkan. Sebab aku merasa hidupku tidak lagi berguna.”
“Kapan saja ada kata-kata orang yang menyakiti perasaanmu, abaikanlah. Jika tidak, maka setegar apa pun dirimu, lama-lama kau akan rapuh oleh sakit hatimu sendiri, lalu gugur karena merasa hidupmu tidak berguna.”
“Seraplah hanya kata-kata yang bermanfaat bagi hidupmu, seperti dulu aku hanya menyerap air, cahaya dan angin, karena itu menumbuhkanku.”
Lalu pohon itu tumbang bersama keputusasaannya.